Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

donat dan donut

soal rasa nomor dua, yang penting penampilan

apakah anda pernah makan donat?

setelah saya amati ternyata ada beberapa perbedaan donat jaman dulu dan jaman sekarang.

donat jaman dulu warna kulitnya coklat kadang-kadang cenderung gosong, kalau donat jaman sekarang warna kulitnya putih-putih.
menurut prediksi saya penyebab donat jaman dulu cenderung gosong karena gula yang digunakan adalah gula asli indonesia, 100% hasil keringat petani tebu indonesia, sedangkan donat jaman sekarang gula yang digunakan adalah gula impor, 100% hasil kebijakan petinggi negeri yang konon katanya gemah ripah loh jinawi.

donat jaman dulu toppingnya cuma meses coklat atau gula bubuk warna putih. kalau donat jaman sekarang toppingnya macam-macam, mulai dari kacang sangrai sampai aneka selai.
nah kalau yang ini menurut saya adalah mutlak' karena tuntutan pasar. jaman sekarang orang akan sangat memperhatikan penampilan, soal rasa nomor dua, kalau tidak percaya coba perhatikan kemunculan klinik-klinik kecantikan yang belakangan ini tumbuh subur bak cendawan di musim penghujan, sekali lagi soal rasa nomor dua, yang penting penampilan hehehe...

donat jaman dulu penjualnya menuliskan ejaan donat dengan ejaan bahasa indonesia "donat", kalau donat jaman sekarang penjualnya kebanyakan menggunakan ejaan bahasa asing menjadi "donut", terkaan saya, mungkin karena maraknya waralaba asing yang menginvasi negeri ini sehingga merek asli indonesia pun harus menggunakan ejaan asing agar laku :D.

tapi ada yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang, yaitu bagian tengah donat tetap saja tidak bisa dinikmati :D

hehehe...saya lagi iseng, tulisannya tidak bermutu, lebih baik tidak usah dibaca :D

sekelangkong


Kamis, 23 September 2010

salam kopi

secangkir kopi istimewa - solo - 23042010
Beberapa hari ini saya mendadak menjadi pengagum berat kopi. Bukan karena saya sering minum kopi apalagi karena saya pernah punya warung kopi ecek-ecek di daerah betek Malang beberapa tahun yang lalu. Saya mengaguminya karena menurut saya kopi itu lebih dari sekedar rasa dan aromanya saja.
Kenapa harus kopi?

Ceritanya berawal dari sebuah obrolan ngalor-ngidul dengan seorang kawan lama semasa duduk di bangku SMP melalui fasilitas chatting akun jejaring sosial. Tidak ada yang istimewa dari obralan tersebut, cuma di akhir obrolan saya jadi sedikit miris. Teman saya ini bercerita kalau dia mau bercerai dengan istrinya. Alasannya klasik, karena beda prinsip dalam hidup dan perbedaan itu tidak mungkin disatukan lagi sehingga dia memutuskan untuk menggugat cerai istrinya yang sudah memberinya seorang putra yang sungguh menggemaskan.

Saya jadi berpikir, apa cerai itu jawaban atas segala perbedaan yang tidak dapat disatukan dalam rumah tangga? Lantas mengapa dulu menikah kalau sudah tahu berbeda. Bukankah kita ini memang sengaja diciptakan berbeda-beda antara satu dengan lainnya untuk saling melengkapi?

Karena alasan itulah saya mengagumi kopi. Coba perhatikan, kopi bisa menjadi hidangan istimewa ketika dicampur dengan gula dan diseduh dengan air panas. Kalau mau manis beri lebih banyak gula, kalau suka pahit kurangi gulanya atau tambahkan kopinya dan kalau mau sedikit rasa gurih tambahkan sedikit krim lalu aduk rata sampai tercipta rasa dan aroma istimewa yang sesuai dengan selera.

Seperti itulah harusnya pernikahan, semoga saja pendapat saya tidak salah.


Sekelangkong